Konon
pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh
tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, priangan samapai ke wilayah
Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah Prabu Bramaiya
Maisatandraman dengan gelar Prabu Siliwangi. Kemudian pada sekitar abad
ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh
saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini
adalah Sunan Gunung Jati dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai
ke selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan
rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam.
Akhirnya
raja beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan
keraan masuk hutan belantara kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai,
mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan
pada pantun upacara Suku Baduy “ Jauh teu puguh nu dijugjug,
leumpang teu puguhnu diteang , malipir dina gawir, nyalindung dina
gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang
jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa
wangatua” Artinya : “jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug
),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik
gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak
saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan“
Keturunan ini yang sekarang bertempat tinggal di kampong Cibeo (Baduy Dalam)
dengan cirri-ciri : berbaju putih hasil jaitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua (tenunan sendiri) sampai di atas lutut, dan sifat penampilannya jarang bicara (seperlunya) tapi amanah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.
dengan cirri-ciri : berbaju putih hasil jaitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua (tenunan sendiri) sampai di atas lutut, dan sifat penampilannya jarang bicara (seperlunya) tapi amanah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.
Keturunan
ini yang kemudian menetap di kampung Cikeusik ( Baduy Dalam ) dengan
Khas sama dengan di kampong Cikeusik yaitu : wataknya keras,acuh, sulit
untuk diajak bicara (hanya seperlunya), kuat terhadap hukum Adat, tidak
mudah menerima bantuan orang lain yang sifatnya pemberian, memakai baju
putih (blacu) atau dari tenunan serat daun Pelah, iket kepala putih
memakai sarung tenun biru tua (diatas lutut).
Ada
juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud suku Pengawinan adalah dari
percampuran suku-suku yang pada waktu itu ada yang berasal dari daerah
Sumedang, priangan, Bogor, Cirebon juga dari Banten. Jadi
kebanyakanmereka itu terdiri dari orang-orang yang melangggar adat
sehingga oleh Prabu Siliwangi dan Prabu Pucuk Umun dibuang ke suatu
daerah tertentu. Golongan inipun ikut terdesak oleh perkembangan agama
Islam sehingga kabur terpencar kebeberapa daerah perkampungan tapi ada
juga yang kabur kehutan belantara, sehingga ada yang tinggal di Guradog
kecamatan Maja, ada yang terus menetap di kampong Cisungsang kecamatan
Bayah, serta ada yang menetap di kampung Sobang dan kampong Citujah
kecamatan Muncang, maka ditempat-tempat tersebut di atas masih ada
kesamaan cirikhas tersendiri. Adapun sisanya sebagian lagi mereka
terpencar mengikuti/menyusuri sungai Ciberang, Ciujung dan sungai
Cisimeut yang masing-masing menuju ke hulu sungai, dan akhirnya golongan
inilah yang menetap di 27 perkampungan di Baduy Panamping ( Baduy Luar )
desa Kanekes kecamatan Leuwidamar kabupaten Lebak dengan cirri-cirinya ;
berpakaian serba hitam, ikat kepala batik biru tua, boleh bepergian
dengan naik kendaraan, berladang berpindah-pindah, menjadi buruh tani,
mudah diajak berbicara tapi masih tetap terpengaruh adanya hukum adat
karena merekan masih harus patuh dan taat terhadap Hukum adat.
Suku
Baduy berasal dari daerah di wilayah Kecamatan Leuwidamar Kabupaten
Lebak umumnya sewilayah Banten maka suku Baduy berasal dari 3 tempat
sehingga baik dari cara berpakaian, penampilan serta sifatnyapun sangat
berbeda Sebutan bagi suku Baduy terdiri dari:
- Suku Baduy Dalam yang artinya suku Baduy yang berdomisili di Tiga Tangtu (Kepuunan) yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana.
- Suku Baduy Panamping artinya suku Baduy yang bedomisili di luar Tangtu yang menempati di 27 kampung di desa Kanekes yang masih terikatoleh Hukum adat dibawah pimpinan Puuun (kepala adat).
- Suku Baduy Muslim yaitu suku Baduy yang telah dimukimkan dan telah mengikuti ajaran agama Islam dan prilakunya telah mulai mengikuti masyarakat luar serta sudah tidak mengikuti Hukum adat.