Powered by Blogger.

Terbaru

Showing posts with label Agrobisnis. Show all posts
Showing posts with label Agrobisnis. Show all posts

Cara Bikin Keripik Jamur Pedas

Resep Pembuatan Keripik Jamur Pedas


Resep Cara Bikin Keripik Jamur Pedas

Bahan bahan :
  • 1 kg jamur tiram putih segar
  • 2 butir telur ayam
  • tepung beras
  • tepung tapioka
  • minyak untuk menggoreng
  • bumbu yang dihaluskan : bawang merah, bawang putih, garam, ketumbar dan laos putih
  • bumbu taburan : 1/4 ons keju bubuk dan 3 sdm balado bubuk
Cara membuat  :
  • Jamur tiram putih segar terlebih dahulu direndam dalam air panas selama 3 menit, lalu dipotong-potong sesuai selera.
  • Tepung beras dan tepung tapioka dicampurkan dengan perbandingan 1 : 1.
  • Lalu masukkan jamur ke dalam bumbu yang telah dihaluskan kemudian masukkan kocokan telur, aduk hingga rata
  • Jamur dimasukkan dalam adonan tepung kemudian diayak agar terpisah dengan tepungnya.
  • Jamur yang terpisah dari tepung lalu digoreng.
  • Setelah setengah matang tiriskan dan diamkan selama 1 hari, lalu ulangi mengorengnya sampai matang.
  • Kripik jamur yang telah matang siap dikemas.

Cara Bikin Keripik dari Daun Singkong

Resep Cara Bikin Keripik dari Daun Singkong
 


Resep Pembuatan Keripik Daun Singkong

Bahan :
- Daun singkong
- Garam
- 2 buah bawang putih
- 1 bungkus kaldu ayam
- Minyak goreng
- Tepung bumbu
Cara membuat :
1. Daun singkong di cuci hingga bersih.
2. Bawang putih dan garam secukupnya dihaluskan.
3. Tepung bumbu diberi air secukupnya.
4. Kemudian ditambah kaldu ayam
5. Daun singkong dimasukkan kedalam campuran tepung kemudian di goreng.
6. Siap disajikan



Tekhnik dan Cara Budidaya Jamur Tiram

Usaha budidaya jamur tiram seringkali mengalami kegagalan karena teknik dan cara budidaya yang kurang benar. Meskipun gampang, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti lingkungan, kebersihan, serta konsistensi selama perawatan. Jika faktor-faktor tersebut tidak bisa dipenuhi dengan baik maka hasilnya pun kurang optimal bahkan besar kemungkinan berpotensi mendatangkan kegagalan.

JAMUR TIRAM

Jamur tiram putih berwarna putih agak krem dengan diameter tubuh 3-14 cm. Jamur ini memiliki miselium. Tubuh buah jamur inilah yang bernilai ekonomis tinggi serta menjadi tujuan dari budidaya jamur tiram. Teknik budidaya jamur tiram mulai dari persiapan hingga pasca panen sangat perlu diperhatikan agar pelaku usaha benar-benar memahami sehingga lebih menguasai dalam pemeliharaan maupun pengendalian hama tanaman.

PERSIAPAN PENANAMAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Hal-hal yang menunjang budidaya jamur tiram harus diperhatikan sebelum melakukan penanaman. Persiapan matang membantu menciptakan suasana kondusif bagi pertumbuhan sehingga menunjang keberhasilan budidaya. Langkah-langkah yang harus dilakukan diantaranya membuat rumah kumbung baglog, rak baglog, menyediakan bibit, serta menyediakan peralatan budidaya. (Bisa Anda lihat di artikel Persiapan Usaha Budidaya Jamur Tiram). Usahakan selama budidaya jamur ini menggunakan bibit bersertifikat yang dapat dibeli dari petani lain atau dinas pertanian setempat. Peralatan budidaya jamur tiram cukup sederhana, harga terjangkau, bahkan kita bisa memanfaatkan peralatan dapur.

Pada dataran rendah modifikasi bahan media serta takarannya dapat mengoptimalkan hasil, caranya yakni mengurangi atau menambah takaran tiap-tiap bahan dari standar umumnya. Pada usaha budidaya jamur tiram skala kecil, perlu juga dilakukan eksperimen atau percobaan dalam menentukan takaran bahan media agar takarannya tepat. Hal ini perlu dilakukan mengingat jamur yang dibudidayakan di lingkungan tumbuh yang berbeda tentu membutuhkan nutrisi maupun media yang berbeda pula tergantung kondisi lingkungan setempat. Hingga saat ini belum ada standar komposisi media untuk budidaya jamur tiram di dataran rendah, sehingga petani memodifikasi media serta lingkungan berdasarkan pengalaman dan kondisi masing-masing.

NUTRISI DAN MEDIA TANAM JAMUR TIRAM

Nutrisi sangat dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup untuk melangsungkan setiap proses kehidupannya, tak terkecuali jamur tiram. Pada budidaya jamur tiram, jamur memperoleh nutrisi dari serbuk gergaji, dimana serbuk gergaji ini berfungsi sebagai media tempat tumbuh. Bahan serbuk gergaji yang baik dapat diperoleh dari bahan kayu keras karena serbuk gergaji kayu jenis tersebut sangat berpotensi dalam meningkatkan hasil panen. Dalam kayu keras mengandung selulose dalam jumlah banyak dimana solusose ini sangat dibutuhkan oleh jamur. Beberapa jenis kayu keras yang bisa dimanfaatkan sebagai media tanam antara lain dari kayu sengon, kayu kampung, atau kayu mahoni. Serbuk gergaji sebagai media tumbuh dapat diperoleh dari tempat penggergajian kayu. Sebelum digunakan sebagai media, perlu dilakukan pengomposan terlebih dahulu pada serbuk gergaji agar dapat terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga tersedia serta mudah dicerna oleh jamur. Proses pengomposan serbuk gergaji kayu ini dapat dilakukan dengan cara menutup serbuk gergaji kayu menggunakan plastik atau terpal selama kurang lebih 1 sampai 2 hari. Jika terjadi kenaikan suhu sekitar 50°C berarti pengomposan telah berlangsung baik.
 
Media tanam budidaya jamur tiram sebenarnya tidak hanya berasal dari serbuk gergaji kayu saja, melainkan ada berbagai alternatif pilihan bahan sebagai pengganti serbuk kayu, antara lainnya dapat berasal dari berbagai macam ampas, seperti misalnya ampas kopi, ampas kertas, ampas tebu, atau ampas teh. Meskipun demikian, media yang baik untuk budidaya jamur tiram adalah serbuk gergaji kayu.

Selain serbuk gergaji kayu, media tempat tumbuh juga terdiri dari bekatul (dedak) halus, tepung jagung, kompos, kapur dan air. Media berupa dedak/bekatul dan tepung jagung berfungsi sebagai substrat serta penghasil kalori untuk pertumbuhan jamur. Pastikan bekatul atau dedak maupun tepung jagung masih baru agar media dalam keadaan steril. Penggunaan bahan media yang sudah lama dikhawatirkan pada bahan tersebut sudah terjadi fermentasi yang dapat berakibat tumbuhnya jenis jamur lain yang tidak dikehendaki (terkontaminasi). Substrat dedak/bekatul atau tepung jagung sebenarnya berfungsi sama sehingga jika bahan yang dibutuhkan sulit diperoleh dapat dipilih salah satunya saja. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan dedak maupun tepung jagung memberikan kualitas hasil jamur yang sama karena kandungan nutrisi kedua bahan tersebut hampir sama. Akan tetapi penggunaan dedak dirasa lebih efisien. Penggunaan dedak (bekatul) dapat menekan biaya produksi, selain harganya lebih murah juga mudah didapat karena selama ini dedak masih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pemberian kapur (CaCo3) pada media selain berfungsi untuk mengatur keasaman media tanam juga berfungsi sebagai sumber mineral. Keasaman yang sebabkan oleh miselium jamur ini dapat dinetralisir oleh kalsium dalam kapur, sehingga pemberian kapur pada media tanam sangat diperlukan untuk mengoptimalkan hasil panen. Adapun komposisi media semai budidaya jamur tiram terdiri dari serbuk gergaji 100 kg; tepung jagung 10 kg; dedak halus atau bekatul 10kg; kompos 0,5kg; kapur (CaCo3) 0,5kg; serta air 50-60%. Media tanam kemudian diletakkan dalam kantong plastik bening tanah panas (PE 0,002) berukuran 20cm x 30cm.

Setelah media tanam siap diisi media, langkah selanjutnya sebelum melakukan penanaman bibit jamur, perlu dilakukan sterilisasi bahan maupun sterilisasi baglog. Mengingat budidaya jamur tiram sangat rentan akan serangan hama penyakit sehingga sterilisasi mutlak diperhatikan oleh pelaku usaha budidaya jamur. Hal terburuk, serangan hama penyakit yang tidak terkendali dapat menggagalkan panen.

STERILISASI BAHAN DAN BAGLOG BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Proses sterilisasi media tanam penting dilakukan mengingat budidaya jamur disamping membutuhkan lingkungan budidaya yang selalu bersih juga media tanam yang benar-benar steril agar hasil panen dapat mencapai optimal serta proses budidaya jamur tiram menghasilkan keuntungan tinggi. Proses sterilisasi media tanam ini meliputi sterilisasi bahan dan sterilisasi baglog. Sterilisasi bahan dilakukan menggunakan oven dengan suhu 100°C. Sterilisasi ini berlangsung selama 6-8 jam untuk diperoleh hasil lebih baik, dengan melakukan pemanasan diharapkan mikroorganisme pengganggu dapat ditekan, selain itu juga bertujuan mengurangi kadar air. Bahan-bahan yang disterilisai berupa serbuk gergaji kayu dan dedak (bekatul). Sebelum dimasukkan ke dalam oven, serbuk gergaji kayu dan dedak ini di campur menjadi satu terlebih dahulu kemudian ditambahkan air bersih sekitar 50-60%, campur bahan hingga benar-benar rata serta kalis agar mudah dikepal. Penambahan air ini berfungsi membantu proses penyerapan nutrisi oleh miselium.

Kemudian bahan-bahan steril tadi dimasukkan ke dalam plastik sambil ditekan-tekan sedikit demi sedikit, perlu diperhatikan bahwa bahan-bahan yang dimasukkan harus sepadat mungkin untuk mengoptimalkan hasil. Semakin padat bahan dalam kantong plastik maka semakin banyak pula hasil produksi jamur, untuk itu pastikan bahwa pemasukan bahan-bahan harus benar-benar padat. Tambahkan cincin paralon atau potongan bambu pada bagian atas kantong plastik terlebih dahulu sebelum akhirnya ditutup menggunakan sumbat kapas dan diikat dengan karet tahan panas. Cara pemasangan cincin paralon atau potongan bambu pada budidaya jamur tiram ini yaitu dengan memasang paralon atau potongan bambu pada bagian atas plastik, lalu masukkan seluruh bagian ujung plastik ke dalam lubang peralon atau potongan bambu, tarik kuat-kuat kemudian lipatlah ujung plastik yang telah masuk ke dalam lubang paralon atau potongan bambu ini ke arah sisi luar. Setelah itu baru ikatlah plastik dengan kuat. Sebagai gambaran, hasil akhir dari proses cara pemasangan paralon atau potongan bambu ini adalah bagian ujung baglog terdapat lubang peralon atau potongan bambu sebagai tempat munculnya jamur tiram.

Setelah dilakukan sterilisasi bahan, proses sterilisasi media tanam selanjutnya adalah sterilisasi baglog. Sterilisasi baglog pada budidaya jamur tiram ini dapat dilakukan dengan dua metode yaitu sterilisasi baglog menggunakan autoclave atau pemanas/Steamer dan sterilisasi menggunakan drum minyak. Cara sterilisasi dapat disesuaikan kondisi masing-masing, masing-masing metode memiliki kelebihan maupun kelemahan sendiri-sendiri. Secara prinsip, kedua cara ini dapat menciptakan lingkungan kondusif untuk pertumbuhan jamur.

Sterilisasi Baglog Menggunakan Autoclave atau Pemanas/Steamer
Sterilisasi baglog menggunakan autoclave atau pemanas/steamer membutuhkan waktu relatif sebentar, cukup selama 15 menit saja. Pemanasan cara ini dilakukan pada suhu 121°C. Caranya pun cukup mudah, baglog yang sudah siap serta sudah disteril bahan terlebih dahulu tentunya tinggal dimasukkan saja ke dalam autoclave. Keuntungan sterilisasi baglog menggunakan cara ini adalah dapat menghemat waktu, namun membutuhkan biaya tinggi untuk investasi alat. Meskipun demikian untuk budidaya jamur tiram jangka panjang serta berskinambungan justru akan lebih menguntungkan.

Sterilisasi Baglog Menggunakan Drum Minyak
Sterilisasi baglog menggunakan drum memiliki keuntungan lebih murah jika dibandingkan dengan sterilisasi menggunakan autoclave atau pemanas/steamer sehingga dapat menekan biaya produksi. Namun membutuhkan waktu lama dalam proses sterilisasinya. Selain itu, drum minyak pun harus berkapasitas besar agar dapat menampung kurang lebih 50 baglog agar lebih menghemat waktu sehingga juga dapat menekan biaya produksi. Cara sterilisasi baglog menggunakan cara ini sebenarnya juga cukup mudah, yaitu cukup memanaskannya di atas kompor minyak atau api. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk proses pemanasan sekitar 8 jam.

PENDINGINAN

Setelah melakukan proses sterilisasi, baik sterilisasi bahan maupun sterilisasi baglog, langkah selanjutnya adalah proses pendinginan. Pada poses ini, baglog yang sudah disterilisasi tadi, yaitu selama 15 menit untuk sterilisasi menggunakan autoclave atau pemanas/steamer dan 8 jam untuk sterilisasi menggunakan drum, baglog harus didinginkan sebelum dilakukan penanaman. Pastikan baglog sudah menjadi dingin terlebih dahulu sebelum melakukan penanaman, baru setelah benar-benar dingin kemudian dilakukan penanaman bibit jamur.

PERSIAPAN PENANAMAN JAMUR TIRAM

Steril merupakan kunci utama keberhasilan budidaya, untuk itu kebersihan harus tetap terus dijaga serta lebih ditingkatkan. Persiapan sebelum melakukan penanaman jamur tiram terutama sekali adalah dalam hal kebersihan ini, baik kebersihan alat, tempat, maupun tenaga kerja. Tempat penanaman jamur tiram harus disterilisasi terlebih dahulu menggunakan disinfektan untuk mengurangi terjadinya kontaminasi yang tidak diinginkan sehingga budidaya jamur tiram semakin optimal. Alat yang akan digunakan untuk menanam juga harus disterilisasi menggunakan alkohol serta dipanaskan terlebih dahulu. Selain itu, tanaga kerja juga dianjurkan untuk memakai masker penutup terutama penutup hidung dan mulut sehingga kemungkinan terkontaminasi oleh bakteri (mikroorganisme pengganggu) melalui mulut maupun hidung tenaga kerja dapat diminimalisir.

PENANAMAN JAMUR TIRAM

Penanaman jamur tiram dilakukan setelah semuanya dipastikan steril. Selama proses ini perlu diperhatikan suhu serta kelembaban udaranya. Suhu udara kondusif sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan miselium jamur, suhu yang dibutuhkan berkisar antara 23-28°C, dengan suhu udara optimun pada 25°C. Siram lantai menggunakan air atau semprot lokasi menggunakan tangki sprayer jika cuaca terlalu terik dan berangin. Hal ini dilakukan untuk menurunkan suhu udara pada kisaran suhu ideal. Atur juga sirkulasi udara pada tempat budidaya jamur tiram agar jamur tetap mendapatkan udara segar. Tutup sebagian lubang sirkulasi udara jika angin sedang bertiup kencang. Pastikan kondisi lingkungan tetap kondusif untuk menopang pertumbuhan jamur.

PEMELIHARAAN JAMUR TIRAM

Seperti halnya dalam budidaya lain, pemeliharaan tanaman merupakan faktor penting. Dalam hal ini, pemeliharaan selama budidaya jamur tiram adalah mengenai pengendalian hama penyakit jamur. Hal ini penting sekali mengingat hama penyakit pasti selalu menyerang pada setiap budidaya apa saja terutama di bidang pertanian. Meskipun saat pembuatan baglog sampai penanaman semua media maupun tempat sudah disterilisisai, namun hama penyakit pasti selalu datang di setiap fase. Untuk mengoptimalkan hasil produksi, meminimalisir resiko serta mengendalikan hama penyakit adalah langkah-langkah paling tepat.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Serangan hama dan penyakit antara tempat satu dengan tempat lainnya pada budidaya jamur tiram berbeda-beda, cara pengendalian hama dan penyakit ini pun tentunya tidak sama, tergantung jenis hama maupun penyakit apa yang sedang menyerang. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang berbeda-beda pula antara satu tempat dengan lainnya serta kebersihan lokasi budidaya atau rumah kumbung. Selain faktor lingkungan, serangan hama penyakit dapat bersumber dari jamur itu sendiri terutama saat melakukan proses sterilisasi baik saat melakukan sterilisasi bahan media tanam maupun sterilisasi baglog. Dimungkinkan terjadi kesalahan saat melakukan sterilisasi ini sehingga mudah terkontaminasi oleh kondisi lingkungan setempat.

HAMA JAMUR TIRAM

Hama pengganggu selama proses budidaya jamur tiram meliputi hama ulat, kleket, semut, serta laba-laba. Pengamatan setiap hari di lapangan perlu dilakukan agar serangan hama dapat terdeteksi lebih dini sehingga mengurangi resiko kegagalam panen. Berikut ini deskripsi singkat mengenai hama pengganggu berikut cara pengendaliannya:

Ulat

Hama utama dalam budidaya jamur tiram adalah hama ulat. Hama ini muncul ketika kelembaban udara tinggi, kebersihan lingkungan tidak terjaga, serta akibat kotoran dari sisa pangkal/bonggol atau tangkai jamur maupun jamur yang tidak terpanen. Pencegahan hama ulat dilakukan dengan mengatur sirkulasi udara untuk mengatur kelembaban, pemanenan lebih hati-hati sehingga tidak banyak pangkal atau batang maupun jamur yang tidak terpanen, serta menjaga kebersihan lokasi kumbung. Pengendalian secara kimiawi dengan melakukan penyemprotan formalin di sekitar lokasi rumah kumbung.

Kleket (sejenis moluska), Semut dan Laba-laba

Pengendalian hama kleket, semut dan laba-laba dapat dilakukan dengan dua cara, baik secara mekanis maupun kimiawi. Secara mekanis, pengendalian hama semut dan laba-laba dapat dengan melakukan pembongkaran pada sarangnya, kemudian disiram menggunakan minyak tanah. Sedangkan hama kleket seringkali dijumpai pada mulut baglog cukup diambing menggunakan tangan. Secara kimiawi, hama tersebut dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida untuk semut dan laba-laba serta pemberian molustisida untuk hama kleket. Namun, pengendalian kimiawi hendaknya dijadikan alternatif terakhir karena produk jamur merupakan produk organik. Selain ramah lingkungan, pengendalian hama kleket, semut maupun laba-laba secara mekanis juga menekan biaya produksi.

PENYAKIT JAMUR TIRAM

Penyakit pengganggu selama proses budidaya jamur tiram meliputi jamur parasit dan tangkai jamur memanjang. Seperti halnya pada cara pengendaian hama, pengamatan setiap hari di lapangan juga perlu dilakukan agar hasil panen optimal. Berikut ini deskripsi singkat mengenai penyakit beserta cara pengendaliannya:

Jamur Parasit

Seperti telah berulangkali dibahas sebelumnya, bahwa kebersihan merupakan kunci utama keberhasilan budidaya jamur tiram. Rumah kumbung maupun peralatan yang digunakan selama proses produksi harus selalu dalam keadaan steril untuk mengurangi kontaminasi mikroorganisme pengganggu yang tidak diinginkan, bahkan dapat menggagalkan budidaya jamur. Jika kebersihan maupun faktor lingkungan (suhu, kelembaban, dll) kurang mendukung, biasanya sering terjadi pada baglog banyak ditumbuhi penyakit cendawan maupun jamur lain yang tumbuh seiring pertumbuhannya. Missellium cendawan atau jamur parasit tersebut saling berebut untuk melakukan pertumbuhan sehingga sering mengakibatkan pertumbuhan menjadi terhambat, bahkan terkadang menyebabkan tidak tumbuh. Jamur parasit ini berisifat patogen, gejalanya ditandai munculnya miselium berwarna kuning, hijau, hitam, disertai lendir pada substrat. Jamur parasit yang biasa menyerang selama proses budidaya adalah Penicillium sp., Rhizopus sp., Aspergillus sp., serta Mucor sp.. Jamur ini menyerang substrat atau baglog dengan cara tumbuh bersaing dengan tanaman pokok. Penyakit ini menyerang baglog tertutup maupun terbuka. Pengendalian jamur penganggu dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan yang berhubungan dengan proses budidaya jamur tiram (baik kumbung, baglog, peralatan, maupun tenaga kerja), musnahkan baglog terserang jamur parasit dengan cara dibakar, serta mengatur kelembanan udara di sekitar lokasi kumbung.

Tangkai Jamur Memanjang

Penyakit tangkai jamur memanjang merupakan penyakit fisiologis, ditandai tangkai jamur memanjang dengan tubuh jamur kecil tidak dapat berkembang maksimal. Penyakit tangkai memanjang disebabkan karena kelebihan CO2 akibat ventilasi udara kurang sempurna. Pencegahan penyakit tangkai memanjang adalah mengatur ventilasi seoptimal mungkin pada rumah kumbung sehingga sirkulasi udara berjalan sempurna sesuai kebutuhan pertumbuhannya.

PANEN JAMUR TIRAM

Kegiatan ini merupakan hasil akhir yang sangat dinanti-nantikan oleh para petani. Mereka bisa tersenyum senang manakala hasil budidayanya menuai keberhasilan, sebaliknya bahkan bisa menangis penuh kesedihan manakala hasil panen tak sesuai harapan. Pemanenan budidaya jamur tiram ini dilakukan secara bertahap. Pada prinsipnya, jamur tiram siap panen sudah berukuran cukup besar dengan tepi meruncing tetapi belum mekar penuh (belum pecah). Namun, dapat juga disesuaikan dengan permintaan pasar. Panen biasanya dilakukan saat berumur 40 hari setelah pembibitan. Pada kondisi ini, tubuh jamur tiram sudah berkembang maksimal, berkisar antara 3 mingguan dari saat buah jamur terbentuk.

PENANGANAN PASCA PANEN JAMUR TIRAM

Setelah pemanenan selesai dilakukan, masih memerlukan proses penangan lebih lanjut untuk meningkatkan keuntungan. Penanganan ini disesuaikan dengan permintaan pasar tujuan. Upaya penanganan pascapanen biasanya meningkatkan hasil antara 25%-100% tergantung kesepakatan maupun pasar tujuan. Untuk mendapatkan produk berkualitas baik serta memenuhi kriteria permintaan pasar modern, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti di bawah ini:

Pencucian
Penggunaan pestisida dalam budidaya jamur tiram mungkin belum bisa dihindari oleh para petani baik petani hortikultura maupun petani jamur. Hal ini sangat dimaklumi karena kesadaran masyarakat kita masih sangat rendah baik di tingkat konsumen maupun petani, ditambah perekonomian masyarakat juga masih sangat rendah. Mayoritas konsumen di Indonesia menginginkan produksi pertanian berkualitas super bahkan organik tetapi dengan harga murah, sedangkan para petani menginginkan produktivitas tinggi dengan sedikit resiko karena harga jualnya juga rendah sehingga mereka tetap berorientasi mencari laba atau keuntungan. Suatu masalah yang sangat bertolak belakang, dan perlu dicarikan titik temu. Namun, bagi para petani jamur, ada cara untuk meminimalisir hasil panen dari residu pestisida, yaitu melakukan pencucian menggunakan air bersih sehabis panen, kemudian pangkal jamur dipisahkan dari tubuhnya. Biasanya residu pestisida mengendap pada pangkal batang ini, sedangkan pada tubuh buah jamur residu pestisida diminimalisir oleh pencucian tersebut.

Sortasi Hasil Panen
Setelah dilakukan pencucian, langkah selanjutnya pada proses pascapanen adalah penyortiran atau sortasi. Keseragaman hasil merupakan syarat utama untuk pemasaran agribisnis modern, baik keperluan ekspor maupun supermarket. Sortasi atau penyortiran dilakukan dengan memisahkan bentuk maupun ukuran tertentu. Biasanya masing-masing pasar menentukan standar ukuran berbeda-beda, disesuaikan tingkat kebutuhan konsumen setempat.

Pengemasan dan Transportasi
Masalah penting dalam penangan pascapanen adalah pengemasan (packing) maupun transportasi, karena model pengemasan merupakan salah satu bagian penting untuk mendongkrak keuntungan. Pada pasar modern masalah pengemasan bahkan mampu meningkatkan harga jual hingga 100% tergantung permintaan konsumen. Untuk keperluan ini, jamur segar dikemas menggunakan plastik kedap udara. Pengemasan semacam ini bertujuan meminimalisir resiko kerusakan, semakin sedikit udara di dalam plastik, maka semakin tahan lama untuk disimpan. Tidak hanya itu, penggunaan plastik kedap udara bahkan dapat mempertahankan kesegaran jamur selama 2 sampai 4 hari. Sedangkan untuk pengangkutan jarak jauh, alat transportasi sebaiknya menggunakan ruangan pendingin agar kestabilan kesegarannya tetap terjaga sehingga meminimalisir resiko.

Demikian artikel mengenai teknik dan cara budidaya jamur tiram, semoga dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah para petani atau pelaku usaha budidaya jamur. Dapatkan dukungan teknis dari partner kami, semoga bermanfaat
 
sumber : http://www.tanijogonegoro.com

Cara Bikin Pakan Ikan

PAKAN IKAN

PAKAN IKAN
1. SEJARAH SINGKAT
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan.

Cara Budidaya Jangkrik

BUDIDAYA TERNAK JANGKRIK
( Gryllus mitratus Burm )

 
 
1. SEJARAH SINGKAT
Dewasa ini pada masa krisis ekonomi di Indonesia, budidaya jangkrik (Liogryllus Bimaculatus) sangat gencar, begitu juga dengan seminar-seminar yang diadakan dibanyak kota. Kegiatan ini banyak dilakukan mengingat waktu yang dibutuhkan untuk produksi telur yang akan diperdagangkan hanya memerlukan waktu ± 2-4 minggu. Sedangkan untuk produksi jangkrik untuk pakan ikan dan burung maupun untuk diambil tepungnya, hanya memerlukan 2- 3 bulan. Jangkrik betina mempunyai siklus hidup ± 3 bulan, sedangkan jantan kurang dari 3 bulan. Dalam siklus hidupnya jangkrik betina mampu memproduksi lebih dari 500 butir telur.

Penyebaran jangkrik di Indonesia adalah merata, namun untuk kota-kota besar yang banyak penggemar burung dan ikan, pada awalnya sangat tergantung untuk mengkonsumsi jangkrik yang berasal dari alam, lama kelamaan dengan berkurangnya jangkrik yang ditangkap dari alam maka mulailah dicoba untuk membudidayakan jangkrik alam dengan diternakkan secara intensif dan usaha ini banyak dilakukan dikota-kota dipulau jawa.
2. SENTRA PETERNAKAN
Telah diutarakan didepan bahwa untuk sementara ini, sentra peternakan jangkrik adalah dikota-kota besar dipulau jawa karena kebutuhan dari jangkrik sangat banyak. Sedangkan diluar pulau jawa sementara ini masih banyak didapatkan dari alam, sehingga belum banyak peternakan-peternakan jangkrik.
3. J E N I S
Ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak dibudidayakan pada saat ini adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus, untuk pakan ikan dan burung. Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, dimana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek disamping itu Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang.
4. MANFAAT
Jangkrik segar yang sudah diketahui baik untuk pakan burung berkicau seperti poksay, kacer dan hwambie serta untuk pakan ikan, baik juga untuk pertumbuhan udang dan lele dalam bentuk tepung.
5. PERSYARATAN LOKASI
1) Lokasi budidaya harus tenang, teduh dan mendapat sirkulasi udara yang baik.
2) Lokasi jauh dari sumber-sumber kebisingan seperti pasar, jalan raya dan lain sebagainya.
3) Tidak terkena sinar matahari secara langsung atau berlebihan.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Menurut Farry, 1999, ternak jangkrik merupakan jenis usaha yang jika tidak direncanakan dengan matang, akan sangat merugikan usaha. Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan dalam merencanakan usaha ternak jangkrik, yaitu penyusunan jadwal kegiatan, menentukan struktur organisasi, menentukan spesifikasi pekerjaan, menetapkan fasilitas fisik, merencanakan metoda pendekatan pasar, menyiapkan anggaran, mencari sumber dana dan melaksanakan usaha ternak jangkrik
6.1.
Penyiapan Sarana dan Peralatan
Karena jangkrik biasa melakukan kegiatan diwaktu malam hari, maka kandang jangkrik jangan diletakkan dibawah sinar matahari, jadi letakkan ditempat yang teduh dan gelap. Sebaiknya dihindarkan dari lalu lalang orang lewat terlebih lagi untuk kandang peneluran.

Untuk menjaga kondisi kandang yang mendekati habitatnya, maka dinding kandang diolesi dengan lumpur sawah dan diberikan daun-daun kering seperti daun pisang, daun timbul, daun sukun dan daun-daun lainnya untuk tempat persembunyian disamping untuk menghindari dari sifat kanibalisme dari jangkrik. Dinding atas kandang bagian dalam sebaiknya dilapisi lakban keliling agar jangkrik tidak merayap naik sampai keluar kandang.

Disalah satu sisi dinding kandang dibuat lubang yang ditutup kasa untuk memberikan sirkulasi udara yang baik dan untuk menjaga kelembapan kandang. Untuk ukuran kotak pemeliharaan jangkrik, tidak ada ukuran yang baku. Yang penting sesuai dengan kebutuhan untuk jumlah populasi jangkrik tiap kandang. Menurut hasil pemantauan dilapangan dan pengalaman peternak, bentuk kandang biasanya berbentuk persegi panjang dengan ketinggian 30-50 cm, lebar 60-100 cm sedangkan panjangnya 120-200 cm.

Kotak (kandang) dapat dibuat dari kayu dengan rangka kaso, namun untuk mengirit biaya, maka dinding kandang dapat dibuat dari triplek. Kandang biasanya dibuat bersusun, dan kandang paling bawah mempunyai minimal empat kaki penyangga. Untuk menghindari gangguan binatang seperti semut, tikus, cecak dan serangga lainnya, maka keempat kaki kandang dialasi mangkuk yang berisi air, minyak tanah atau juga vaseline (gemuk) yang dilumurkan ditiap kaki penyangga.

Budidaya Ternak Lebah

BUDIDAYA TERNAK LEBAH

1. SEJARAH SINGKAT
Lebah merupakan insekta penghasil madu yang telah lama dikenal manusia. Sejak zaman purba manusia berburu sarang lebah di goa-goa, di lubang-lubang pohon dan tempat-tempat lain untuk diambil madunya. Lebah juga menghasilkan produk yang yang sangat dibutuhkan untuk dunia kesehatan yaitu royal jelly, pollen, malam (lilin) dan sebagainya. Selanjutnya manusia mulai membudidayakan dengan memakai gelodog kayu dan pada saat ini dengan sistem stup.

Manfaat Bubuk Kacang Kedelai

BUBUK KEDELAI

 

1. PENDAHULUAN
 
Bubuk kedelai dibuat dari kedelai kering yang digiling halus yang ditambah dengan bahan perasa. Bubuk kedelai digunakan sebagai bahan baku makanan bayi, bubur atau campuran kue. Pengolahannya tidak sulit, dan dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan yang biasa terdapat di rumahtangga.

2. BAHAN
  1) Kedelai.
2) Gula
3) Coklat bubuk tanpa lemak
4) Bahan penstabil.
3. PERALATAN
  1) Alat pengupas kulit kedelai.
2) Alat perebusan.
3) Kompor.
4) Ember plastik.
5) Alat pengering.
6) Mesin penggiling
7) Pengayak
8) Pencampur.
9) Toples plastik besar.
10) Sealer listrik.
11) Kantong plastik
12) Timbangan.
4. CARA PEMBUATAN
 
1. Pengolahan Dengan Mesin Pengupas Kering.
"100%" border="0" cellpadding="2" cellspacing="2" class="isi"> , bahan penstabil dan bubuk coklat tanpa lemak. Setiap 1 kg bubuk kedelai membutuhkan gula pasir 520 gram, penstabil 140 gram, dan bubuk coklat 90 gram. Campuran ini diaduk sampai rata. Hasil pencampuran ini disebut sebagai bubuk kedelai coklat.
a) Pembersihan. Kedelai dibersihkan dari segala biji rusak (pecah, berwarna kehitaman, berjamur, dan busuk) dan kotoran seperti tanah, kerikil, daun dan ranting.
b) Pengeringan. Kedelai dijemur atau dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air dibawah 7%. Kedelai yang kurang kering sulit untuk dikupas secara kering.
c) Pengupasan kulit. Kulit biji dikupas dengan mesin pengupas kering.
d) Pencucian kedelai Kedelai yang telah dikupas, dicuci dengan air bersih sampai air bilasan menjadi bening.
e) Perendaman. Biji direndam di dalam air bersih selama 2 jam. Setiap 1 kg kedelai membutuhkan 2,5 liter air perendam.
f) Perebusan. Setelah perendaman, biji direbus di dalam air mendidih selama 2 jam. Setiap 1 kg kedelai membutuhkan 2,5 liter air bersih. Ke dalam air perebus ditambahkan soda kue. Setiap 1 kg kedelai membutuhkan soda kue 0,5~1 gram.Setelah itu, biji kedelai ditiriskan.
g) Pengeringan. Biji yang telah ditiriskan dan masih panas, dikeringkan di dalam alat pengering sampai kadar air di bawah 5%.
h) Penggilingan dan pengayakan. Kedelai yang telah benar-benar kering digiling sampai halus, kemudian diayak dengan ayakan 80 mesh. Hasil pengayakan adalah bubuk kedelai tawar.
i) Pencampuran bahan-bahan perasa. Bubuk kedelai tawar ditambah dengan gula
a) Pembersihan. Kedelai dibersihkan dari segala biji rusak (pecah, berwarna kehitaman, berjamur, dan busuk) dan kotoran seperti tanah, kerikil, daun dan ranting.
b) Pengeringan. Kedelai dijemur atau dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air dibawah 7%. Kedelai yang kurang kering sulit untuk dikupas secara kering.
c) Pengupasan kulit. Kulit biji dikupas dengan mesin pengupas kering.
d) Pencucian kedelai Kedelai yang telah dikupas, dicuci dengan air bersih sampai air bilasan menjadi bening.
e) Perendaman. Biji direndam di dalam air bersih selama 2 jam. Setiap 1 kg kedelai membutuhkan 2,5 liter air perendam.
j) Pengemasan. Bubuk kedelai coklat dikemas di dalam kantong plastik atau kotal kaleng yang tertutup rapat.
2. Pengolahan Dengan Mesin Pengupas Basah Hidrosiklon.
a) Pembersihan. Kedelai dibersihkan dari segala biji rusak (pecah, berwarna kehitaman, berjamur, dan busuk) dan kotoran seperti tanah, kerikil, daun dan ranting.
b) Perendaman. Biji direndam di dalam air bersih selama 2 jam. Setap 1 kg kedelai membutuhkan 2,5 air perendam.
c) Perebusan. Setelah perendaman, biji direbus di dalam air mendidih selama 2 jam. Setiap 1 kg kedelai membutuhkan 2,5 liter air bersih. Ke dalam air perebus ditambahkan dengan soda kue. Setiap 1 kg kedelai membutuhkan soda kue 0,5~1 gram. Setelah itu, biji keelai ditiriskan dan didinginkan.
d) Pengupasan kulit. Kulit biji dikupas dengan mesin pengupas basah hidrosiklon yang dapat memecah biji dan memisahkan kulit dari bijinya.
e) Pencucian kedelai. Kedelai yang telah dikupas, dicuci dengan air bersih sampai air bilasan menjadi bening.
f) Pengeringan. Kedelai dijemur atau dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air dibawah 5%. Kedelai yang kurang kering sulit untuk dikupas secara kering.
g) Penggilingan dan pengayakan. Kedelai yang telah benar-benar kering digiling sampai halus, kemudian diayak dengan ayakan dengan ayakan 80 mesh. Hasil pengayakan adalah bubuk kedelai tawar.
h) Pencampuran bahan perasa. Bubuk kedelai tawar ditambah dengan gula, bahan penstabil dan bubuk coklat tanpa lemak. Setiap 1 kg bubuk kedelai membutuhkan gula pasir 520 gram, penstabil 140 gram, dan bubuk coklat 90 gram. Campuran ini diaduk sampai rata. Hasil pencampuran ini disebut sebagai bubuk kedelai coklat.
i) Pengemasan. Bubuk kedelai coklat dikemas kemudian dikupas. Umbi yang telah dikupas, tapi tidak langsung diproses lebih lanjut harus direndam di dalam air. Setelah itu umbi diiris tipis-tipis.
5. KONTAK HUBUNGAN
  Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat,
Jl. Rasuna Said, Padang Baru, Padang, Telp. 0751 40040, Fax. 0751 40040
6. SUMBER
Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera Barat, Hasbullah,
Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat

Cara Membuat Jagung Goreng Renyah

JAGUNG GORENG


1. PENDAHULUAN
 
Jagung goreng disebut juga jagung marning yang dibuat melalui proses penggorengan (pemasakan di dalam minyak panas). Produk ini dapat dibuat pada berbagai tingkat kerenyahan. Biasanya konsumen lebih menyukai jagung goreng yang kerenyahannya seperti kerupuk. Garam, bawang merah, bawah putih dan merica dicampurkan ke jagung goreng sebagai bumbu.

Tips Agar Sayuran Tetap Segar

MENJAGA KESEGARAN SAYURAN

Barangkali kita dapat menjawab pertanyaan ini dengan gampang, “membungkusnya dengan plastik, lalu menyimpannya ke dalam kulkas”. Paling tidak, itu yang paling sering kita lakukan. Salahkah? Tidak. Sama sekali tidak. Cara ini sangat raktis.

urah, mudah diingat, bahkan sudah menjadi gerakan refleks. Dan hasilnya, pun tidak mengecewakan. Sayuran kita bisa bertahan sampai dua atau tiga hari. Bahkan sayuran yang berupa buah dapat dijaga kesegarannya sampai satu minggu.

Cara ini pun cukup aman dari masalah penurunan kandungan beberapa jenis gizinya. Paling tidak untuk beberapa jenis sayuran. Karena pada suhu rendah, kandungan vitamin dan mineralnya dapat dikatakan praktis utuh, oleh sebab vitamin dan mineral ini praktis tidak terurai. Beberapa jenis enzim pun tidak aktif, sehingga perubahan-perubahan enzimatisnya praktis terhenti.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. mediaNet - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger