Usaha budidaya jamur tiram seringkali mengalami
kegagalan karena teknik dan cara budidaya yang kurang benar. Meskipun
gampang, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti lingkungan,
kebersihan, serta konsistensi selama perawatan.
Jika
faktor-faktor tersebut tidak bisa dipenuhi dengan baik maka hasilnya pun
kurang optimal bahkan besar kemungkinan berpotensi mendatangkan
kegagalan.
JAMUR TIRAM
Jamur tiram putih berwarna putih agak krem dengan
diameter tubuh 3-14 cm. Jamur ini memiliki miselium. Tubuh buah jamur
inilah yang bernilai ekonomis tinggi serta menjadi tujuan dari budidaya
jamur tiram. Teknik budidaya jamur tiram mulai dari persiapan hingga
pasca panen sangat perlu diperhatikan agar pelaku usaha benar-benar
memahami sehingga lebih menguasai dalam pemeliharaan maupun pengendalian
hama tanaman.
PERSIAPAN PENANAMAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM
Hal-hal yang menunjang
budidaya jamur tiram harus diperhatikan sebelum melakukan penanaman.
Persiapan matang membantu menciptakan suasana kondusif bagi pertumbuhan
sehingga menunjang keberhasilan budidaya. Langkah-langkah yang harus
dilakukan diantaranya membuat rumah kumbung baglog, rak baglog,
menyediakan bibit, serta menyediakan peralatan budidaya. (Bisa Anda
lihat di artikel
Persiapan Usaha Budidaya Jamur Tiram).
Usahakan selama budidaya jamur ini menggunakan bibit bersertifikat yang
dapat dibeli dari petani lain atau dinas pertanian setempat. Peralatan
budidaya jamur tiram cukup sederhana, harga terjangkau, bahkan kita bisa
memanfaatkan peralatan dapur.
Pada dataran rendah modifikasi bahan media serta takarannya dapat
mengoptimalkan hasil, caranya yakni mengurangi atau menambah takaran
tiap-tiap bahan dari standar umumnya. Pada usaha budidaya jamur tiram
skala kecil, perlu juga dilakukan eksperimen atau percobaan dalam
menentukan takaran bahan media agar takarannya tepat. Hal ini perlu
dilakukan mengingat jamur yang dibudidayakan di lingkungan tumbuh yang
berbeda tentu membutuhkan nutrisi maupun media yang berbeda pula
tergantung kondisi lingkungan setempat. Hingga saat ini belum ada
standar komposisi media untuk budidaya jamur tiram di dataran rendah,
sehingga petani memodifikasi media serta lingkungan berdasarkan
pengalaman dan kondisi masing-masing.
NUTRISI DAN MEDIA TANAM JAMUR TIRAM
Nutrisi sangat dibutuhkan
oleh setiap makhluk hidup untuk melangsungkan setiap proses
kehidupannya, tak terkecuali jamur tiram. Pada budidaya jamur tiram,
jamur memperoleh nutrisi dari serbuk gergaji, dimana serbuk gergaji ini
berfungsi sebagai media tempat tumbuh. Bahan serbuk gergaji yang baik
dapat diperoleh dari bahan kayu keras karena serbuk gergaji kayu jenis
tersebut sangat berpotensi dalam meningkatkan hasil panen. Dalam kayu
keras mengandung selulose dalam jumlah banyak dimana solusose ini sangat
dibutuhkan oleh jamur. Beberapa jenis kayu keras yang bisa dimanfaatkan
sebagai media tanam antara lain dari kayu sengon, kayu kampung, atau
kayu mahoni. Serbuk gergaji sebagai media tumbuh dapat diperoleh dari
tempat penggergajian kayu. Sebelum digunakan sebagai media, perlu
dilakukan pengomposan terlebih dahulu pada serbuk gergaji agar dapat
terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga tersedia serta
mudah dicerna oleh jamur. Proses pengomposan serbuk gergaji kayu ini
dapat dilakukan dengan cara menutup serbuk gergaji kayu menggunakan
plastik atau terpal selama kurang lebih 1 sampai 2 hari. Jika terjadi
kenaikan suhu sekitar 50°C berarti pengomposan telah berlangsung baik.
Media tanam budidaya jamur tiram sebenarnya tidak hanya berasal dari
serbuk gergaji kayu saja, melainkan ada berbagai alternatif pilihan
bahan sebagai pengganti serbuk kayu, antara lainnya dapat berasal dari
berbagai macam ampas, seperti misalnya ampas kopi, ampas kertas, ampas
tebu, atau ampas teh. Meskipun demikian, media yang baik untuk budidaya
jamur tiram adalah serbuk gergaji kayu.
Selain serbuk gergaji kayu, media tempat tumbuh juga terdiri dari
bekatul (dedak) halus, tepung jagung, kompos, kapur dan air. Media
berupa dedak/bekatul dan tepung jagung berfungsi sebagai substrat serta
penghasil kalori untuk pertumbuhan jamur. Pastikan bekatul atau dedak
maupun tepung jagung masih baru agar media dalam keadaan steril.
Penggunaan bahan media yang sudah lama dikhawatirkan pada bahan tersebut
sudah terjadi fermentasi yang dapat berakibat tumbuhnya jenis jamur
lain yang tidak dikehendaki (terkontaminasi). Substrat dedak/bekatul
atau tepung jagung sebenarnya berfungsi sama sehingga jika bahan yang
dibutuhkan sulit diperoleh dapat dipilih salah satunya saja. Berdasarkan
hasil penelitian, penggunaan dedak maupun tepung jagung memberikan
kualitas hasil jamur yang sama karena kandungan nutrisi kedua bahan
tersebut hampir sama. Akan tetapi penggunaan dedak dirasa lebih efisien.
Penggunaan dedak (bekatul) dapat menekan biaya produksi, selain
harganya lebih murah juga mudah didapat karena selama ini dedak masih
banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pemberian kapur (CaCo3) pada
media selain berfungsi untuk mengatur keasaman media tanam juga
berfungsi sebagai sumber mineral. Keasaman yang sebabkan oleh miselium
jamur ini dapat dinetralisir oleh kalsium dalam kapur, sehingga
pemberian kapur pada media tanam sangat diperlukan untuk mengoptimalkan
hasil panen. Adapun komposisi media semai budidaya jamur tiram terdiri
dari serbuk gergaji 100 kg; tepung jagung 10 kg; dedak halus atau
bekatul 10kg; kompos 0,5kg; kapur (CaCo3) 0,5kg; serta air 50-60%. Media
tanam kemudian diletakkan dalam kantong plastik bening tanah panas (PE
0,002) berukuran 20cm x 30cm.
Setelah media tanam siap diisi media, langkah selanjutnya sebelum
melakukan penanaman bibit jamur, perlu dilakukan sterilisasi bahan
maupun sterilisasi baglog. Mengingat budidaya jamur tiram sangat rentan
akan serangan hama penyakit sehingga sterilisasi mutlak diperhatikan
oleh pelaku usaha budidaya jamur. Hal terburuk, serangan hama penyakit
yang tidak terkendali dapat menggagalkan panen.
STERILISASI BAHAN DAN BAGLOG BUDIDAYA JAMUR TIRAM
Proses
sterilisasi media tanam penting dilakukan mengingat budidaya jamur
disamping membutuhkan lingkungan budidaya yang selalu bersih juga media
tanam yang benar-benar steril agar hasil panen dapat mencapai optimal
serta proses budidaya jamur tiram menghasilkan keuntungan tinggi. Proses
sterilisasi media tanam ini meliputi sterilisasi bahan dan sterilisasi
baglog. Sterilisasi bahan dilakukan menggunakan oven dengan suhu 100°C.
Sterilisasi ini berlangsung selama 6-8 jam untuk diperoleh hasil lebih
baik, dengan melakukan pemanasan diharapkan mikroorganisme pengganggu
dapat ditekan, selain itu juga bertujuan mengurangi kadar air.
Bahan-bahan yang disterilisai berupa serbuk gergaji kayu dan dedak
(bekatul). Sebelum dimasukkan ke dalam oven, serbuk gergaji kayu dan
dedak ini di campur menjadi satu terlebih dahulu kemudian ditambahkan
air bersih sekitar 50-60%, campur bahan hingga benar-benar rata serta
kalis agar mudah dikepal. Penambahan air ini berfungsi membantu proses
penyerapan nutrisi oleh miselium.
Kemudian bahan-bahan steril tadi dimasukkan ke dalam plastik sambil
ditekan-tekan sedikit demi sedikit, perlu diperhatikan bahwa bahan-bahan
yang dimasukkan harus sepadat mungkin untuk mengoptimalkan hasil.
Semakin padat bahan dalam kantong plastik maka semakin banyak pula hasil
produksi jamur, untuk itu pastikan bahwa pemasukan bahan-bahan harus
benar-benar padat. Tambahkan cincin paralon atau potongan bambu pada
bagian atas kantong plastik terlebih dahulu sebelum akhirnya ditutup
menggunakan sumbat kapas dan diikat dengan karet tahan panas. Cara
pemasangan cincin paralon atau potongan bambu pada budidaya jamur tiram
ini yaitu dengan memasang paralon atau potongan bambu pada bagian atas
plastik, lalu masukkan seluruh bagian ujung plastik ke dalam lubang
peralon atau potongan bambu, tarik kuat-kuat kemudian lipatlah ujung
plastik yang telah masuk ke dalam lubang paralon atau potongan bambu ini
ke arah sisi luar. Setelah itu baru ikatlah plastik dengan kuat.
Sebagai gambaran, hasil akhir dari proses cara pemasangan paralon atau
potongan bambu ini adalah bagian ujung baglog terdapat lubang peralon
atau potongan bambu sebagai tempat munculnya jamur tiram.
Setelah dilakukan sterilisasi bahan, proses sterilisasi media tanam
selanjutnya adalah sterilisasi baglog. Sterilisasi baglog pada budidaya
jamur tiram ini dapat dilakukan dengan dua metode yaitu sterilisasi
baglog menggunakan autoclave atau pemanas/Steamer dan
sterilisasi menggunakan drum minyak. Cara sterilisasi dapat disesuaikan
kondisi masing-masing, masing-masing metode memiliki kelebihan maupun
kelemahan sendiri-sendiri. Secara prinsip, kedua cara ini dapat
menciptakan lingkungan kondusif untuk pertumbuhan jamur.
Sterilisasi Baglog Menggunakan Autoclave atau Pemanas/Steamer
Sterilisasi baglog menggunakan autoclave atau pemanas/steamer
membutuhkan waktu relatif sebentar, cukup selama 15 menit saja.
Pemanasan cara ini dilakukan pada suhu 121°C. Caranya pun cukup mudah,
baglog yang sudah siap serta sudah disteril bahan terlebih dahulu
tentunya tinggal dimasukkan saja ke dalam autoclave. Keuntungan
sterilisasi baglog menggunakan cara ini adalah dapat menghemat waktu,
namun membutuhkan biaya tinggi untuk investasi alat. Meskipun demikian
untuk budidaya jamur tiram jangka panjang serta berskinambungan justru
akan lebih menguntungkan.
Sterilisasi Baglog Menggunakan Drum Minyak
Sterilisasi baglog menggunakan drum memiliki keuntungan lebih murah jika dibandingkan dengan sterilisasi menggunakan autoclave atau pemanas/steamer
sehingga dapat menekan biaya produksi. Namun membutuhkan waktu lama
dalam proses sterilisasinya. Selain itu, drum minyak pun harus
berkapasitas besar agar dapat menampung kurang lebih 50 baglog agar
lebih menghemat waktu sehingga juga dapat menekan biaya produksi. Cara
sterilisasi baglog menggunakan cara ini sebenarnya juga cukup mudah,
yaitu cukup memanaskannya di atas kompor minyak atau api. Lamanya waktu
yang dibutuhkan untuk proses pemanasan sekitar 8 jam.
PENDINGINAN
Setelah melakukan proses sterilisasi, baik
sterilisasi bahan maupun sterilisasi baglog, langkah selanjutnya adalah
proses pendinginan. Pada poses ini, baglog yang sudah disterilisasi
tadi, yaitu selama 15 menit untuk sterilisasi menggunakan autoclave atau pemanas/steamer
dan 8 jam untuk sterilisasi menggunakan drum, baglog harus didinginkan
sebelum dilakukan penanaman. Pastikan baglog sudah menjadi dingin
terlebih dahulu sebelum melakukan penanaman, baru setelah benar-benar
dingin kemudian dilakukan penanaman bibit jamur.
PERSIAPAN PENANAMAN JAMUR TIRAM
Steril merupakan kunci utama
keberhasilan budidaya, untuk itu kebersihan harus tetap terus dijaga
serta lebih ditingkatkan. Persiapan sebelum melakukan penanaman jamur
tiram terutama sekali adalah dalam hal kebersihan ini, baik kebersihan
alat, tempat, maupun tenaga kerja. Tempat penanaman jamur tiram harus
disterilisasi terlebih dahulu menggunakan disinfektan untuk mengurangi
terjadinya kontaminasi yang tidak diinginkan sehingga budidaya jamur
tiram semakin optimal. Alat yang akan digunakan untuk menanam juga harus
disterilisasi menggunakan alkohol serta dipanaskan terlebih dahulu.
Selain itu, tanaga kerja juga dianjurkan untuk memakai masker penutup
terutama penutup hidung dan mulut sehingga kemungkinan terkontaminasi
oleh bakteri (mikroorganisme pengganggu) melalui mulut maupun hidung
tenaga kerja dapat diminimalisir.
PENANAMAN JAMUR TIRAM
Penanaman jamur tiram dilakukan setelah
semuanya dipastikan steril. Selama proses ini perlu diperhatikan suhu
serta kelembaban udaranya. Suhu udara kondusif sangat diperlukan untuk
menunjang pertumbuhan miselium jamur, suhu yang dibutuhkan berkisar
antara 23-28°C, dengan suhu udara optimun pada 25°C. Siram lantai
menggunakan air atau semprot lokasi menggunakan tangki sprayer jika
cuaca terlalu terik dan berangin. Hal ini dilakukan untuk menurunkan
suhu udara pada kisaran suhu ideal. Atur juga sirkulasi udara pada
tempat budidaya jamur tiram agar jamur tetap mendapatkan udara segar.
Tutup sebagian lubang sirkulasi udara jika angin sedang bertiup kencang.
Pastikan kondisi lingkungan tetap kondusif untuk menopang pertumbuhan
jamur.
PEMELIHARAAN JAMUR TIRAM
Seperti halnya dalam budidaya lain,
pemeliharaan tanaman merupakan faktor penting. Dalam hal ini,
pemeliharaan selama budidaya jamur tiram adalah mengenai pengendalian
hama penyakit jamur. Hal ini penting sekali mengingat hama penyakit
pasti selalu menyerang pada setiap budidaya apa saja terutama di bidang
pertanian. Meskipun saat pembuatan baglog sampai penanaman semua media
maupun tempat sudah disterilisisai, namun hama penyakit pasti selalu
datang di setiap fase. Untuk mengoptimalkan hasil produksi,
meminimalisir resiko serta mengendalikan hama penyakit adalah
langkah-langkah paling tepat.
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA JAMUR TIRAM
Serangan
hama dan penyakit antara tempat satu dengan tempat lainnya pada
budidaya jamur tiram berbeda-beda, cara pengendalian hama dan penyakit
ini pun tentunya tidak sama, tergantung jenis hama maupun penyakit apa
yang sedang menyerang. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang
berbeda-beda pula antara satu tempat dengan lainnya serta kebersihan
lokasi budidaya atau rumah kumbung. Selain faktor lingkungan, serangan
hama penyakit dapat bersumber dari jamur itu sendiri terutama saat
melakukan proses sterilisasi baik saat melakukan sterilisasi bahan media
tanam maupun sterilisasi baglog. Dimungkinkan terjadi kesalahan saat
melakukan sterilisasi ini sehingga mudah terkontaminasi oleh kondisi
lingkungan setempat.
HAMA JAMUR TIRAM
Hama pengganggu selama proses budidaya jamur
tiram meliputi hama ulat, kleket, semut, serta laba-laba. Pengamatan
setiap hari di lapangan perlu dilakukan agar serangan hama dapat
terdeteksi lebih dini sehingga mengurangi resiko kegagalam panen.
Berikut ini deskripsi singkat mengenai hama pengganggu berikut cara
pengendaliannya:
Ulat
Hama utama dalam budidaya jamur tiram adalah hama ulat.
Hama ini muncul ketika kelembaban udara tinggi, kebersihan lingkungan
tidak terjaga, serta akibat kotoran dari sisa pangkal/bonggol atau
tangkai jamur maupun jamur yang tidak terpanen. Pencegahan hama ulat
dilakukan dengan mengatur sirkulasi udara untuk mengatur kelembaban,
pemanenan lebih hati-hati sehingga tidak banyak pangkal atau batang
maupun jamur yang tidak terpanen, serta menjaga kebersihan lokasi
kumbung. Pengendalian secara kimiawi dengan melakukan penyemprotan
formalin di sekitar lokasi rumah kumbung.
Kleket (sejenis moluska), Semut dan Laba-laba
Pengendalian hama
kleket, semut dan laba-laba dapat dilakukan dengan dua cara, baik secara
mekanis maupun kimiawi. Secara mekanis, pengendalian hama semut dan
laba-laba dapat dengan melakukan pembongkaran pada sarangnya, kemudian
disiram menggunakan minyak tanah. Sedangkan hama kleket seringkali
dijumpai pada mulut baglog cukup diambing menggunakan tangan. Secara
kimiawi, hama tersebut dapat dikendalikan dengan penyemprotan
insektisida untuk semut dan laba-laba serta pemberian molustisida untuk
hama kleket. Namun, pengendalian kimiawi hendaknya dijadikan alternatif
terakhir karena produk jamur merupakan produk organik. Selain ramah
lingkungan, pengendalian hama kleket, semut maupun laba-laba secara
mekanis juga menekan biaya produksi.
PENYAKIT JAMUR TIRAM
Penyakit pengganggu selama proses budidaya
jamur tiram meliputi jamur parasit dan tangkai jamur memanjang. Seperti
halnya pada cara pengendaian hama, pengamatan setiap hari di lapangan
juga perlu dilakukan agar hasil panen optimal. Berikut ini deskripsi
singkat mengenai penyakit beserta cara pengendaliannya:
Jamur Parasit
Seperti telah berulangkali dibahas sebelumnya,
bahwa kebersihan merupakan kunci utama keberhasilan budidaya jamur
tiram. Rumah kumbung maupun peralatan yang digunakan selama proses
produksi harus selalu dalam keadaan steril untuk mengurangi kontaminasi
mikroorganisme pengganggu yang tidak diinginkan, bahkan dapat
menggagalkan budidaya jamur. Jika kebersihan maupun faktor lingkungan
(suhu, kelembaban, dll) kurang mendukung, biasanya sering terjadi pada
baglog banyak ditumbuhi penyakit cendawan maupun jamur lain yang tumbuh
seiring pertumbuhannya. Missellium cendawan atau jamur parasit tersebut
saling berebut untuk melakukan pertumbuhan sehingga sering mengakibatkan
pertumbuhan menjadi terhambat, bahkan terkadang menyebabkan tidak
tumbuh. Jamur parasit ini berisifat patogen, gejalanya ditandai
munculnya miselium berwarna kuning, hijau, hitam, disertai lendir pada
substrat. Jamur parasit yang biasa menyerang selama proses budidaya
adalah Penicillium sp., Rhizopus sp., Aspergillus sp., serta Mucor sp..
Jamur ini menyerang substrat atau baglog dengan cara tumbuh bersaing
dengan tanaman pokok. Penyakit ini menyerang baglog tertutup maupun
terbuka. Pengendalian jamur penganggu dapat dilakukan dengan menjaga
kebersihan yang berhubungan dengan proses budidaya jamur tiram (baik
kumbung, baglog, peralatan, maupun tenaga kerja), musnahkan baglog
terserang jamur parasit dengan cara dibakar, serta mengatur kelembanan
udara di sekitar lokasi kumbung.
Tangkai Jamur Memanjang
Penyakit tangkai jamur memanjang
merupakan penyakit fisiologis, ditandai tangkai jamur memanjang dengan
tubuh jamur kecil tidak dapat berkembang maksimal. Penyakit tangkai
memanjang disebabkan karena kelebihan CO2 akibat ventilasi udara kurang
sempurna. Pencegahan penyakit tangkai memanjang adalah mengatur
ventilasi seoptimal mungkin pada rumah kumbung sehingga sirkulasi udara
berjalan sempurna sesuai kebutuhan pertumbuhannya.
PANEN JAMUR TIRAM
Kegiatan ini merupakan hasil akhir yang sangat
dinanti-nantikan oleh para petani. Mereka bisa tersenyum senang
manakala hasil budidayanya menuai keberhasilan, sebaliknya bahkan bisa
menangis penuh kesedihan manakala hasil panen tak sesuai harapan.
Pemanenan budidaya jamur tiram ini dilakukan secara bertahap. Pada
prinsipnya, jamur tiram siap panen sudah berukuran cukup besar dengan
tepi meruncing tetapi belum mekar penuh (belum pecah). Namun, dapat juga
disesuaikan dengan permintaan pasar. Panen biasanya dilakukan saat
berumur 40 hari setelah pembibitan. Pada kondisi ini, tubuh jamur tiram
sudah berkembang maksimal, berkisar antara 3 mingguan dari saat buah
jamur terbentuk.
PENANGANAN PASCA PANEN JAMUR TIRAM
Setelah pemanenan selesai
dilakukan, masih memerlukan proses penangan lebih lanjut untuk
meningkatkan keuntungan. Penanganan ini disesuaikan dengan permintaan
pasar tujuan. Upaya penanganan pascapanen biasanya meningkatkan hasil
antara 25%-100% tergantung kesepakatan maupun pasar tujuan. Untuk
mendapatkan produk berkualitas baik serta memenuhi kriteria permintaan
pasar modern, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti di bawah
ini:
Pencucian
Penggunaan
pestisida
dalam budidaya jamur tiram mungkin belum bisa dihindari oleh para
petani baik petani hortikultura maupun petani jamur. Hal ini sangat
dimaklumi karena kesadaran masyarakat kita masih sangat rendah baik di
tingkat konsumen maupun petani, ditambah perekonomian masyarakat juga
masih sangat rendah. Mayoritas konsumen di Indonesia menginginkan
produksi pertanian berkualitas super bahkan organik tetapi dengan harga
murah, sedangkan para petani menginginkan produktivitas tinggi dengan
sedikit resiko karena harga jualnya juga rendah sehingga mereka tetap
berorientasi mencari laba atau keuntungan. Suatu masalah yang sangat
bertolak belakang, dan perlu dicarikan titik temu. Namun, bagi para
petani jamur, ada cara untuk meminimalisir hasil panen dari residu
pestisida, yaitu melakukan pencucian menggunakan air bersih sehabis
panen, kemudian pangkal jamur dipisahkan dari tubuhnya. Biasanya residu
pestisida mengendap pada pangkal batang ini, sedangkan pada tubuh buah
jamur residu pestisida diminimalisir oleh pencucian tersebut.
Sortasi Hasil Panen
Setelah dilakukan pencucian, langkah selanjutnya pada proses pascapanen
adalah penyortiran atau sortasi. Keseragaman hasil merupakan syarat
utama untuk pemasaran agribisnis modern, baik keperluan ekspor maupun
supermarket. Sortasi atau penyortiran dilakukan dengan memisahkan bentuk
maupun ukuran tertentu. Biasanya masing-masing pasar menentukan standar
ukuran berbeda-beda, disesuaikan tingkat kebutuhan konsumen setempat.
Pengemasan dan Transportasi
Masalah penting dalam penangan pascapanen adalah pengemasan (packing)
maupun transportasi, karena model pengemasan merupakan salah satu bagian
penting untuk mendongkrak keuntungan. Pada pasar modern masalah
pengemasan bahkan mampu meningkatkan harga jual hingga 100% tergantung
permintaan konsumen. Untuk keperluan ini, jamur segar dikemas
menggunakan plastik kedap udara. Pengemasan semacam ini bertujuan
meminimalisir resiko kerusakan, semakin sedikit udara di dalam plastik,
maka semakin tahan lama untuk disimpan. Tidak hanya itu, penggunaan
plastik kedap udara bahkan dapat mempertahankan kesegaran jamur selama 2
sampai 4 hari. Sedangkan untuk pengangkutan jarak jauh, alat
transportasi sebaiknya menggunakan ruangan pendingin agar kestabilan
kesegarannya tetap terjaga sehingga meminimalisir resiko.
Demikian artikel mengenai teknik dan cara budidaya jamur tiram, semoga
dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah para petani atau pelaku
usaha budidaya jamur. Dapatkan dukungan teknis dari partner kami, semoga
bermanfaat
sumber : http://www.tanijogonegoro.com