Powered by Blogger.

Terbaru

Showing posts with label Tempat Ziarah. Show all posts
Showing posts with label Tempat Ziarah. Show all posts

Misteri Mitos Gunung Kawi


http://anehdidunia.com
Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaannya, terutama menyangkut masalah kekayaan. Mitos seputar pesugihan Gunung kawi ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan "berkah" berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka.
iasanya lonjakan pengunjung yang melakukan ritual terjadi pada hari Jumat Legi (hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.
Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena 'dikeramatkan' dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan, antara lain:

1. Rumah Padepokan Eyang Sujo
http://anehdidunia.com
Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.

2. Guci Kuno
http://anehdidunia.com
Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama 'janjam'. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membuat seseorang menjadi awet muda.

3. Pohon Dewandaru
http://anehdidunia.com
Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman.

Untuk mendapat 'simbol perantara kekayaan', para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet.

Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.

Siapakah sesungguhnya Eyang Jugo dan Eyang Sujo?
http://anehdidunia.com
Yang dimakamkan dalam satu liang lahat di pesarean Gunung Kawi ini? Menurut Soeryowidagdo (1989), Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo atau Raden Mas Iman Sudjono adalah bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kawi ini.

Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkancara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan lain yang berguna bagi penduduk setempat. Sahabat anehdidunia.com perbuatan dan karya mereka sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.

Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke makam mereka melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam eninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo etiap tanggal 1 bulanSuro (muharram), di tempat ini selalu diadakan erayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini iasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut.

Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.

Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.

Wisata Ziarah Pesugihan Gunung Kawi

Pepatah populer di kalangan warga Tionghoa ini bisa menjelaskan kenapa Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sangat populer. Kawi bukan gunung tinggi, hanya sekitar 2.000 meter, juga tidak indah. Tapi gunung ini menjadi objek wisata utama masyarakat Tionghoa.

Tiap hari ratusan orang Tionghoa, termasuk orang pribumi naik ke Gunung Kawi. Masa liburan plus cuti bersama Lebaran ini sangat ramai. Karena terkait dengan kepercayaan Jawa, Kejawen, maka kunjungan biasanya dikaitkan dengan hari-hari pasaran Jawa: Jumat Legi, Senin Pahing, Syuro, dan Tahun Baru.

Penginapan lebih dari 10 buah, dengan tarif Rp 30.000 hingga Rp 200.000. Restoran Tionghoa yang menawarkan sate babi dan makanan tidak halal (buat muslim) cukup banyak. Tukang ramal nasib. Penjual kembang untuk nyekar. Penjual alat-alat sembahyang khas Tionghoa. Belum lagi warung nasi dan sebagainya.

Kalau masuk makam dua makam tokoh yang telah dijelaskan diatas, pengunjung harus membeli kembang. Sebelumnya, bayar retribusi untuk Desa Wonosari Rp 2.000. Lalu, menyerahkan KTP (kartu tanda penduduk) atau identitas lain pada satpam untuk didaftar nama dan alamat. Sumbang lagi uang tapi sukarela. Jangan kaget kalau anda menjumpai banyak sumbangan atau retribusi di aset wisata Kabupaten Malang ini.

Saat masuk ke kompleks Gunung Kawi, hampir 99 persen warga keturunan Tionghoa. Anak-anak, remaja, profesional muda, hingga kakek-nenek. Sahabat anehdidunia.com orang-orang itu bersembahyang layaknya di kelenteng. Masuk ke makam, jalan keliling makam, sambil membuat gerakan menyembah macam di kelenteng. Tidak ada arahan atau instruksi, mereka semua melakukan gerakan-gerakan itu.

Hampir tidak ada Tionghoa itu yang beragama Islam. Kok begitu menghormati dan sembahyangan di depan makam Imam Soedjono dan Mbah Djoego? Apa mereka tahu siapa yang dimakamkan di situ? Belum lagi kalau kita bahas secara teologi Islam atau Kristiani tentang boleh tidaknya melakukan ritual di Gunung Kawi.

Para pemandu wisata di Gunung Kawi berusaha tidak menyinggung kepercayaan atau agama orang lain. Selain sensitif, mereka tak ingin bisnis mereka terganggu. Harus diakui, warga Desa Wonosari mendapat banyak berkah dari objek wisata Gunung Kawi. Tak sedikit penduduk mengais rezeki di kawasan Gunung Kawi mulai pemandu wisata, penjual bunga, warung, satpam, parkir, dan sebagainya.

Selain berdoa sendiri-sendiri, Yayasan Gunung Kawi menawarkan paket ritual tiga kali sehari: pukul 10.00, pukul 15.00, pukul 21.00. Ritual ini dipimpin dukun atau tukang doa setempat, namun harus pakai sesajen untuk selamatan. Siapa yang mau ikut harus mendaftar dulu di loket.

Tarif barang-barang selamatan ditulis jelas di loket yang bagus. Ada dua tipe selamatan agar keinginan anda (dapat rezeki, usaha lancar) tercapai. Bagi mereka yang percaya.
- Pesugihan Gunung Kawi
- Pengunjung antre membeli keperluan ritual.

Apa saja item selamatan? Berikut beberapa item yang umum digunakan :
* Minyak tanah
* Solar
* Minyak goreng
* Beras
* Kambing
* Sapi
* Ayam
* Wayang kulit
* Ruwatan, dll

Melihat nilai rupiah itu, benar-benar membuat kita geleng-geleng kepala. Berdoa kok mahal amat? Apa ada jaminan jadi kaya? Apa Tuhan perlu begitu banyak sayur, makanan, daging, wayang kulit, ruwatan...? Kalau kita miskin, tak punya uang, apa harus utang untuk membeli barang-barang itu?

Di luar kompleks makam, ada Kelenteng Kwan Im. Lilin-lilin merah, besar, terus bernyala. Puluhan warga Tionghoa secara bergantian berdoa di sana. Disana juga ada ciamsi, ajang meramal nasib ala Tionghoa.

Sekitar enam kilometer dari kompleks makam ada pertapaan Gunung Kawi. Jalannya bagus. Kompleks ini pun penuh dengan ornamen Tionghoa. Di ruang utama ada tiga dukun yang siap menerima kedatangan tamu, berdoa agar rezeki lancar. Tapi sebelum itu si dukun membeberkan tarif selamatan yang jutaan rupiah seperti tertera di daftar harga di atas. 
sumber:http://forum.viva.co.id/misteri

Tempat Ziarah di Cirebon Kota Wali

Kota Cirebon terletak di dekat perbatasan dengan Jawa Tengah dan memiliki beberapa obyek wisata yang menarik untuk dilihat khususnya yang berkaitan dengan wisata budaya.

Cirebon adalah kota pelabuhan terpenting di pantai utara Jawa setetah Jakarta dan Semarang, kota ini juga dikenal sebagai kota penghasil ikan dengan hidangan lautnya yang lezat. Cirebon merupakan kota multi etnis yang menggabungkan unsur budaya Sunda dan Jawa menjadi satu dan kemudian bercampur lagi dengan unsur budaya Cina.

Makam Pamijahan Tasikmalaya

Secara administratif terletak di Kampung Pamijahan, Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong. Secara astronomis terletak pada koordinat 49 M 0177650 dan UTM 9162411.

Situs terletak di daerah pedesaan yang arealnya dimanfaatkan sebagai tempat perumahan penduduk, pasar, sawah, ladang, dan hutan. Areal tersebut menempati lahan berbukit dan bergelombang. Situs termasuk cukup ramai didatangi pengunjung. Untuk mencapai ke lokasi dijangkau dari jalan raya bisa hanya bisa dicapai dengan jalan kaki menuju makam sekitar 500m, sedangkan menuju goa sekitar 2 km. Pamijahan merupakan goa alam dan makam penyebar agama Islam. Makam Waliyullah Safardi, keluarga dan pengiringnya. Terletak dalam bangunan empat persegi panjang.

Di luar bangunan di sekitarnya terdapat makam-makam keluarga. Makam-makam dalam bangunan lapisan pertama berjumlah 24, kemudian dalam ruangan lapisan kedua berjumlah 11, dan lapisan ketiga merupakan makam utama yang tertup dinding lagi. Goa pamijahan terletak cukup jauh dari makam, memiliki mulut goa yang cukup lebar dan tinggi.

Di dalam gua orang bisa berdiri tegak dengan stalaktit dan stalakmit yang kokoh. Goa cukup dalam dengan ruangan-ruangan yang seolah-olah disekat sebagai tempat pertapaan, pesantren, mushola, mimbar, lubang-lubang seperti mulaut gua di dalam gua (menurut cerita, lubang tersebut adalah jalan tembus menuju Banten, Cirebon, bahkan Mekah), memiliki mata air yang jernih (dikenal sebagai air zam zam). Jalur jalan dalam gua dialiri air dan berbatu-batu.

Dalam sejarah lisan, gua Pamijahan adalah goa yang pernah menjadi tempat hunian Syeikh Abdul Qodir Jaelani ± 200 sebelum Syeikh H. Abdul Muhyi menerima ilmu agama dari gurunya, Syeikh Imam Sanusi. Letak goa di kaki bukit Gunung Mujarod.

Kata mujarod berarti penenangan karena di dalam goa itulah Syeikh Abdul Muhyi sering mendekatkan diri kepada Allah atau bersemedi. Kemudian kata pamijahan berasal dari masa sebelum hidupnya, yaitu Saparwadi. Saparwadi berasal dari bahasa Arab, sapar artinya jalan dan wadi berarti lembah atau jurang atau menjadi jalan yang berada di atas jurang. Lokasi: Kampung Pamijahan, Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong 

Arah: Untuk mencapai ke lokasi dijangkau dari jalan raya bisa hanya bisa dicapai dengan jalan kaki menuju makam sekitar 500 m, sedangkan menuju goa sekitar 2 km

sumber : http://www.disparbud.jabarprov.go.id

Tempat Ziarah di Garut

Makam Godog terletak di Kampung Godog, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan. Berada pada Koordinat: 07º 15’ 083” LS 107º 57’ 258” BT. Makam Godog dari Terminal Cileunyi Bandung ke Terminal Ciawitali Garut dapat  dicapai dengan waktu ± 1,5 jam Kemudian menuju lokasi dengan menggunakan angkutan kota satu kali jurusan Karangpawitan. Melalui Jalan Raya Karangpawitan ± 5,5 Km masuk ke dalam dengan menggunakan ojeg yang bertarif Rp 10.000,- sampai ke tempat parkir. Untuk mencapai lokasi makam hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki ± 20 menit dengan jarak ± 1 Km.
 
Sunan Godog atau Kanjeng Sunan Rahmat Suci atau Kiansantang adalah penyebar agama Islam pada akhir abad ke 15 - awal abad ke-16 di daerah Timbanganten (sekarang wilayah Kecamatan Samarang, Tarogong, Kadungora dan Leles). Menurut tradisi lisan yang berkembang di daerah Garut, Sunan Godog dipercaya sebagai tokoh salah seorang anak Prabu Siliwangi (dari Nyai Putri Subanglarang) yang beragama Hindu menurut cerita tradisi lisan. Kemudian diceritakan bahwa Sunan Godog ketika kembali dari tanah suci Mekah membawa sewadah tanah. Sepanjang perjalanan menelusuri daerah-daerah di Indonesia, tanah tersebut berceceran. Pada setiap tempat ketika tanah itu jatuh pada masa kemudian menjadi tempat lahirnya para wali. Pada saat menuju Gunung Suci, tanah yang dibawanya bergoyang atau godeg. Dari sinilah nama Godog lahir. Sunan Rahmat Suci pun terkenal sebagai Sunan Godog. 
 
Makam Godog merupakan makam keramat periode Islam berjumlah 9 makam, terdiri dari 1 makam Sunan Godog dan 8 makam para pengiringnya. Makam-makam tersebut terletak berurutan dimulai dari pengiring pertama sampai kedepalan, kemudian makam utama Sunan Godog berada di puncak gunung. Ukuran makam hampir sama ± 2m x 1m. Makam utama berada di dalam bangunan berdenah empat persegi panjang dengan p x l m, bercungkup, beratap genteng, berdinding tembok dan berpintu kayu. Di samping kanannya terdapat ruangan tempat menyimpan gundukan tanah keramat yang pernah dibawa Sunan Godog dari tanah Suci Mekah. 
 
Di lingkungan sekitar makam terdapat bangunan lain tempat berbagai kegiatan, tempat menginap para peziarah atau istirahat para pengunjung; dinding bangunan dari bahan setengah tembok dan kayu, berpagar bambu, berlantai keramik dan bangunan berdinding papan/bilik dan setengah terbuka dengan atap genteng, berlantai papan/palupuh; mushala; dan WC umum. Makam Godog memiliki luas kawasan 20 hektar, dengan batas  Utara: Ladang dan sawah (Desa Tanjungsari), Selatan: Perkampungan penduduk dan pesawahan (Gunung Karacak), Barat: perkampungan dan Erpach tanah Belanda (perkebunan)/Kecamatan Garut Kota, Timur: hutan/Desa Sukanegla.
 
Makam Godog merupakan objek wisata ziarah yang paling banyak dan ramai dikunjungi di Kabupaten Garut. Hal ini karena telah menjadi tradisi pada setiap bulan Maulid diadakan upacara tradisional ‘’ Ngalungsur ‘’ atau Turun Zimat. Upacara yang dilakukan setiap tanggal 14 Maulud ini pada intinya dimaksudkan sebagai ungkapan rasa penghormatan dari masyarakat terhadap Sunan Godog, karena jasanya dalam menyebarkan agama Islam di Tatar Garut. Ungkapan rasa hormat direalisasikan dengancara ‘’ngamumule’’ (memelihara dan merawat) benda pusaka seperti berbagai bentuk dan jenis keris, kitab Al Qur’an, Cis, Skin dan lain-lain. Benda-benda pusaka ini diturunkan dari dalam peti (kandaga) yang disimpan di atas sebuah ruangan bangunan makam, kemudian dibuka penutupnya dan dikeluarkan satu persatu untuk dicuci dengan air bunga dan digosok dengan minyak wangi supaya tidak berkarat oleh juru kunci (kuncen). Upacara ini biasanya diawali upacara seremonial  yang dihadiri oleh aparat pemerintah dan masyarakat sambil berziarah. Benda pusaka dipercaya sebagai peninggalan Sunan Godog yang harus dijaga dan dilestarikan. Selain itu ada pertunjukan kesenian khas Garut.
 
Makam ini telah dijadikan sebagai tujuan wisata oleh masyarakat setempat atau dari luar Garut. Agar lebih meningkatkan kunjungan wisatawan maka pembangunan fasilitas untuk kenyamanan masyarakat yang datang sangat dibutuhkan dan perlu upaya publikasi, pendokumentasian, pengemasan upacara ritual turun jimat agar diketahui dan dikenal.  
 
Lokasi:  Kampung Godog, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut
Koordinat : 07º 15’ 083” S, 107º 57’ 258” E
Telepon:
Email:
Internet:
Arah:  Makam Godog dari Terminal Cileunyi Bandung ke Terminal Ciawitali Garut dapat  dicapai dengan waktu ± 1,5 jam Kemudian menuju lokasi dengan menggunakan angkutan kota satu kali jurusan Karangpawitan. Melalui Jalan Raya Karangpawitan ± 5,5 Km masuk ke dalam dengan menggunakan ojeg yang bertarif Rp 10.000,- sampai ke tempat parkir. Untuk mencapai lokasi makam hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki ± 20 menit dengan jarak ± 1 Km.
 
sumber : www.disparbud.jabarprov.go.id

Tempat Ziarah di Cianjur


 

Makam Dalem Cikundul memiliki nilai historis yang begitu tinggi. Berdasarkan catatan sejarah, Presiden RI pertama Ir Soekarno pernah berziarah ke tempat ini.

Selain dikunjungi Presiden RI pertama Ir Soekarno, beberapa warga asing pun pernah berziarah ke Makam Dalem Cikundul. Berdasarkan data yang ada, sedikitnya wisatawan mancanegara dari 18 negara pernah berkunjung ke Cikundul.

"Wisatawan yang datang ada juga yang berasal dari Brunei Darussallam, Malaysia, Singapura dll" ujar juru kunci Makam Dalem Cikundul H.M Acep Hasbulloh, beberapa waktu lalu.

Sementara peziarah domestik mayoritas berasal dari luar wilayah Kabupaten Cianjur, seperti Depok, Bekasi, Bogor, dan sejumlah wilayah lainnya di Jawa Barat. Bahkan, tak jarang pula peziarah yang datang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Situasi itu cukup membawa berkah bagi masyarakat sekitar untuk mencari rezeki. Selain mendirikan beberapa kios-kios untuk keperluan oleh-oleh para peziarah, masyarakat di sana pun membangun beberapa penginapan kelas melati yang dikhususkan bagi para peziarah yang berasal dari luar kota.

Makam Dalem Cikundul di Desa Cijagang Kecamatan Cikalongkulon merupakan lokasi dimakamkannya Bupati Cianjur pertama Raden Aria Wiratanudatar. Makam ini pun disebut-sebut sebagai titi mangsa lahirnya Kabupaten Cianjur. Dan setiap peringatan Hari Jadi Cianjur pun yang jatuh setiap tanggal 12 Juli, siapapun bupatinya, dipastikan selalu berziarah terlebih dahulu.

sumber : www.inilahkoran.com

Tempat Ziarah di Pandeglang Banten

Kabupaten Pandeglang terletak di provinsi Banten. Luas wilayahnya adalah 2.193,58 Km2. Wilayah kabupaten Pandeglang berbatasan dengan kabupaten Lebak di sebelah Timur, kabupaten Serang di sebelah Utara, Selat Sunda di sebelah Barat, dan Samudera Indonesia di sebelah selatan. Pada tahun 2000, jumlah penduduknya mencapai 2.933.900 jiwa.

Tempat Ziarah di Serang Banten

Provinsi Banten memiliki banyak obyek wisata ziarah yang tersebar sampai ke pelosok. Obyek wisata ziarah ini umumnya berupa makam/pekuburan yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Biasanya yang dimakamkan merupakan seorang tokoh yang memiliki kharisma di masa lalu dan memiliki kemampuan lebih dari manusia pada umumnya, seperti Ulama/Syeh/Wali, Raja/Sultan, Panglima Perang, dan lain sebagainya.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. mediaNet - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger